- The Growth Experiment Lab
- Posts
- 98% orang tahu biaya hidup naik. 37% dari mereka justru akan belanja lebih banyak."
98% orang tahu biaya hidup naik. 37% dari mereka justru akan belanja lebih banyak."
Inilah spending paradox yang terjadi pada konsumen .
TL;DR
98,1% konsumen Indonesia tahu biaya hidup akan naik — tapi 37,7% dari mereka justru akan belanja lebih. Bukan irasional, tapi selektif.
Brand yang bisa menjawab "kenapa ini worth it sekarang" akan menang.
Dan soal platform: pakai TikTok untuk ditemukan, Instagram untuk dipercaya — bukan sebaliknya.
Coba bayangkan skenario begini…
Seseorang tahu bahwa tahun depan pengeluarannya akan naik. Listrik naik. Bahan pokok naik. Cicilan tetap jalan. Tabungan makin tipis.
Tapi di hari yang sama — mereka membuka TikTok, lihat review produk baru, dan checkout.
Irasional? Tidak.
Ini adalah perilaku konsumen Indonesia 2026. Dan kalau kamu belum punya strategi untuk ini, kamu sedang kehilangan momentum yang sangat spesifik.
Paradoks? Ya. Tapi ini bukan kontradiksi — ini adalah prioritization behavior.

Gif by superstore on Giphy
Angka-angka tidak berbohong.
98,1% konsumen Indonesia mengakui biaya hidup akan terus naik
67,4% berencana menabung lebih banyak di 2026
Tapi, 37,7% dari mereka tetap akan belanja lebih banyak
Konsumen tidak berhenti belanja. Mereka menjadi jauh lebih selektif tentang apa yang layak dibeli.
Dan 97,2% dari mereka akan membandingkan harga sebelum membeli.
Artinya: budget ada, niat beli ada — tapi brand yang tidak bisa justifikasi value-nya akan dilewati begitu saja.
Semua data di atas, hanya sebagian kecil dari apa yang kami analisis.
Indonesia Consumers 2026: Early Signals, Real Shifts, and How People Will Spend Their Money adalah laporan riset konsumen Indonesia yang kami susun khusus untuk brand manager, digital strategist, entrepreneur, dan tim agency yang butuh data siap pakai — bukan data mentah yang harus diolah sendiri.
Di dalamnya: perilaku pembelian, prioritas spending, peta platform digital, hingga nilai-nilai yang kini mendorong keputusan konsumen.
Cocok untuk brief kampanye, deck strategi, atau pitch ke klien.
→ Lihat detail & akses reportnya di sini
Kepada brand, terdapat dua implikasi langsung dari data ini.
1. Value justification bukan lagi opsional.
Di pasar yang 97% pembeli bandingkan harga, konten yang hanya bicara fitur sudah tidak cukup. Konten yang menang adalah yang menjawab: "kenapa ini worth it di tengah kondisi sekarang?"
Framing "investasi jangka panjang" > "harga terjangkau"
Framing "hemat lebih besar" > "diskon"
Framing "solusi spesifik" > "produk terbaik"

Giphy
2. Platform harus dipakai sesuai mode konsumen — bukan sesuai selera brand.
Data digital behavior menunjukkan pola yang sangat jelas:
TikTok dipakai konsumen untuk mencari inspirasi (67,9%) — ini adalah discovery mode
Instagram dipakai untuk eksistensi dan update sosial (80,2% daily user) — ini adalah validation mode
Implikasinya langsung: kalau brand kamu butuh ditemukan, TikTok adalah pintu masuk. Kalau brand kamu butuh dipercaya secara sosial, Instagram adalah tempat membangun bukti.
Banyak brand terjebak membalik ini — dan heran kenapa kontennya tidak perform.
Pertanyaannya adalah, di tengah konsumen yang anxious tapi tetap punya daya beli — siapa yang akan mereka pilih?
Brand yang bisa menjawab: "Kami tahu kondisinya. Dan inilah kenapa ini tetap worth it untuk kamu sekarang."
Bukan brand yang paling berisik. Bukan brand dengan anggaran iklan terbesar.
Brand yang paling relevan dengan realita konsumennya.
Next week's issue:
Minggu depan kami akan breakdown lebih dalam soal content framework berbasis spending behavior — bagaimana menyesuaikan messaging tergantung apakah audiensmu sedang dalam mode "menabung" atau "worth it, beli".
See you next week, Growth-Getters!